Chapter 1
"Ini siapa?" batinku, ketika melihat kontak BBM yang tidak kukenali. Oh, ternyata dia satu sekolah denganku. Aku mencoba mengawali percakapan dengan mengomentari foto yang dia posting di BBM.
"Cowokk mah gitu, udah deketin, bikin nyaman, terus pergi gitu aja. Brengsek, memang." Aku membuka topik obrolan yang bisa dibilang "sangat tidak sopan".
"Nggak gitu. Cewek juga banyak kok, yang ngeselin. Hampir semua cewek ngeselin" jawabnya.
"Berarti ibumu juga ngeselin?"
"Ibuku udah nggak ada"
Astaga. Aku merasa sangat bersalah. Awalnya aku hanya ingin mengajaknya bercanda, tapi aku tahu, itu sangat keterlaluan.
"Maaf. Aku nggak tahu."
"Hahaha. Santai aja, kali. Kan, kamu nggak tahu"
Intensitas chattingku dengannya semakin sering. Tapi aku heran, kenapa dia selalu membalas chattingku ditengah malam.
"Kenapa selalu balas chattingku tengah malam? Kamu lagi ngepet, ya?" tanyaku.
Dia tertawa. "Aku kerja. Dan baru sempat balas chattingmu tengah malam"
"Loh? Bukannya kamu kuliah?" tanyaku heran.
"Iya, aku kuliah. Aku kerjanya kalau pulang kuliah, sore sampai malam"
Dia menjelaskan pekerjaanya di salah satu mall, dan aku hanya mengiyakan ceritanya.
"Kamu sekarang kuliah? Atau kerja dimana?" tanyanya.
"Nganggur aku mah, hahaha"
"Serius?"
"Iya, serius. Aku nggak lolos tes di PTN. Mungkin tahun depan baru mulai daftar kuliah lagi"
"Semangat, dong"
"Iya, aku semangat kok. Kan, udah disemanagtin kamu. HAHAHA"
Beberapa bulan berlalu. Aku mulai daftar kuliah. Dari kejauhan, kayaknya aku lihat orang yang nggak asing, pikirku.
Nggak lama kemudian, ada notifikasi.
"Ciyeee jalan sendirian, ciyeee"
Astaga ternyata dia melihatku di kampus.
"Lihat dimana, hey?"
"Di kampus laaah, hahaha"
Aku berfikir sebentar. Jangan-jangan, orang yang aku lihat dari jauh itu dia.
Aku mengirimkan foto mangkok kosong berisi kuah bakso, dan 2 gelas es teh yang aku pesan.
"Gini amat, ya. Daftar kuliah sendirian, makan juga sendirian. Laper, haus, panas. Sampe pesen es teh 2 gelas"
Dia tertawa. "Eh, aku mau cerita, nih"
"Cerita apa?"
"Tadi ada anak cewe, kasihan banget. Daftar kuliah sendiri, terus dia kelaperan, terus dia makan bakso sendirian. Dia aneh loh, masa pesen baksonya 1 tapi pesen es tehnya 2"
Seketika aku langsung ngakak. Teryata dia sedang membahas ceritaku tadi siang.
"Heh! Minta ditabok, ya?"
Dia hanya tertawa melihat reaksiku.
BBM sudah mulai redup. Bisa dibilang, BBM sudah tidak musim. Akhirnya aku meminta nomor whatsappnya untuk melanjutkan komunikasi.
"Aku minta nomormu, dong. Aku udah jarang buka BBM, ini juga mau diuninstall"
Dia mengirimiku nomor whatsapp. "Nih. Aku juga sebenernya udah jarang buka BBM, udah sepi. Aku buka BBM cuma bales chat dari kamu".
Seiring berjalannya waktu, komunikasi kita semakin intens. Tanpa sadar, aku sudah terbiasa dengan kabar darinya.