Di tempat yang sama, sebelum semuanya berubah menjadi abu-abu. Saat aku menemukan tempat ternyaman untuk mengeluh tentang hidup yang monoton, ada bahu yang selalu siap untuk sandaranku, dan ada dia yang ingin mendengarkan cerita monotonku. Dia yang hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia yang saat ini sedang kurindu. Aku bahagia saat aku bisa membuatnya tertawa, hanya dengan tingkah konyolku, dan hanya dengan cerita monoton yang membuat kita tertawa sampai menangis. Saat itu, aku merasa sangat bahagia. Dia yang rela menunggu hujan reda hanya untuk mengantarku pulang. Dia yang memamerkan lesung pipinya padaku, walau lesungnya samar karna pipinya yang sedikit chubby. Dia yang memiliki tempat sendiri dihati. Dia yang menceritakan hal-hal konyol tentang adik bungsunya. Dia yang hanya menanyakan kabarku melalui temanku. Dia yang mengajarkanku apa artinya menunggu. Dia yang mengajarkanku bagaimana rasanya menunggu. Dia hanya satu bagiku, takkan ada yang bisa menyerupainya. Dan dia yang.. sudah bosan untuk menungguku, lalu memilih untuk pergi.
Tidak ada waktu semenitpun yang membuatku menyesal telah mengenalnya. Karena dia telah memiliki tempat tersendiri dihati. Karena dia telah membuatku tertawa. Dan aku cukup bahagia dengan melihatnya tersenyum, walau bukan aku alasannya.
Terimakasih November, kau telah mengirimkan September melalui Oktober untuk menemuiku. Karena kini, bagiku kau hanya Novemberku. Bahkan, aku tidak tahu keberadaannya. Lambat laun, posisinya bisa saja di gantikan oleh orang lain. Kalaupun dia, akan datang lagi, rasanya semua takkan sama.. karena sesuatu yang sudah pergi takkan sama saat ia kembali.
Terimakasih November, walau aku dan dia tidak pernah menjadi kita.
-Ai-
Sabtu, 03 November 2018
Selasa, 16 Oktober 2018
Untukmu, yang pernah singgah dihati
Untukmu, yang pernah singgah dihati
Kamu adalah prioritasku, dulu
Kamu adalah yang membuatku tertawa, dulu
Dulu, semua terasa indah saat bersamamu
Kemanakah kamu yang dulu?
Aku pernah memintamu untuk menunggu, hanya sebentar
Tapi kau memilih untuk meninggalkanku
Aku pernah menunggumu, tanpa kau pinta
Nyatanya, aku hanyalah angin yang membawamu pergi
Kau datang, saat aku terjatuh
Kau ulurkan tangan, untuk membantuku bangun
Dan kau pergi, membuatku terjatuh lagi
Lalu, siapa yang akan membantuku untuk berdiri lagi?
Memang salahku, masih merindukanmu sampai sekarang
Nyatanya, aku hanyalah pilihan saat kau bosan
Setidak pentingkah aku?
Semudah itukah dia menggantikan posisiku?
Kini.. aku seperti balon, dan kau seperti anak kecil
Kau dengan mudahnya melepaskan genggamanku
Kau bahagia, saat aku lepas dari genggamanmu
Tapi akhirnya kau menyesal, karena aku takkan kembali lagi padamu
Untukmu yang pernah singgah dihati,
Terima kasih, kita pernah sedekat nadi walaupun kini sejauh matahari
Kamu adalah apa yang aku tulis,
tapi aku bukanlah apa yang kamu baca
-Ai-
Langganan:
Postingan (Atom)