Minggu, 15 Desember 2019

Friendzone - Chapter 1

Chapter 1


"Ini siapa?" batinku, ketika melihat kontak BBM yang tidak kukenali. Oh, ternyata dia satu sekolah denganku. Aku mencoba mengawali percakapan dengan mengomentari foto yang dia posting di BBM.
"Cowokk mah gitu, udah deketin, bikin nyaman, terus pergi gitu aja. Brengsek, memang." Aku membuka topik obrolan yang bisa dibilang "sangat tidak sopan".
"Nggak gitu. Cewek juga banyak kok, yang ngeselin. Hampir semua cewek ngeselin" jawabnya.
"Berarti ibumu juga ngeselin?"
"Ibuku udah nggak ada"
Astaga. Aku merasa sangat bersalah. Awalnya aku hanya ingin mengajaknya bercanda, tapi aku tahu, itu sangat keterlaluan.
"Maaf. Aku nggak tahu."
"Hahaha. Santai aja, kali. Kan, kamu nggak tahu"
Intensitas chattingku dengannya semakin sering. Tapi aku heran, kenapa dia selalu membalas chattingku ditengah malam.
"Kenapa selalu balas chattingku tengah malam? Kamu lagi ngepet, ya?" tanyaku.
Dia tertawa. "Aku kerja. Dan baru sempat balas chattingmu tengah malam"
"Loh? Bukannya kamu kuliah?" tanyaku heran.
"Iya, aku kuliah. Aku kerjanya kalau pulang kuliah, sore sampai malam"
Dia menjelaskan pekerjaanya di salah satu mall, dan aku hanya mengiyakan ceritanya.
"Kamu sekarang kuliah? Atau kerja dimana?" tanyanya.
"Nganggur aku mah, hahaha"
"Serius?"
"Iya, serius. Aku nggak lolos tes di PTN. Mungkin tahun depan baru mulai daftar kuliah lagi"
"Semangat, dong"
"Iya, aku semangat kok. Kan, udah disemanagtin kamu. HAHAHA"
Beberapa bulan berlalu. Aku mulai daftar kuliah. Dari kejauhan, kayaknya aku lihat orang yang nggak asing, pikirku.
Nggak lama kemudian, ada notifikasi.
"Ciyeee jalan sendirian, ciyeee"
Astaga ternyata dia melihatku di kampus.
"Lihat dimana, hey?"
"Di kampus laaah, hahaha"
Aku berfikir sebentar. Jangan-jangan, orang yang aku lihat dari jauh itu dia.
Aku mengirimkan foto mangkok kosong berisi kuah bakso, dan 2 gelas es teh yang aku pesan.
"Gini amat, ya. Daftar kuliah sendirian, makan juga sendirian. Laper, haus, panas. Sampe pesen es teh 2 gelas"
Dia tertawa. "Eh, aku mau cerita, nih"
"Cerita apa?"
"Tadi ada anak cewe, kasihan banget. Daftar kuliah sendiri, terus dia kelaperan, terus dia makan bakso sendirian. Dia aneh loh, masa pesen baksonya 1 tapi pesen es tehnya 2"
Seketika aku langsung ngakak. Teryata dia sedang membahas ceritaku tadi siang.
"Heh! Minta ditabok, ya?"
Dia hanya tertawa melihat reaksiku.
BBM sudah mulai redup. Bisa dibilang, BBM sudah tidak musim. Akhirnya aku meminta nomor whatsappnya untuk melanjutkan komunikasi.
"Aku minta nomormu, dong. Aku udah jarang buka BBM, ini juga mau diuninstall"
Dia mengirimiku nomor whatsapp. "Nih. Aku juga sebenernya udah jarang buka BBM, udah sepi. Aku buka BBM cuma bales chat dari kamu".
Seiring berjalannya waktu, komunikasi kita semakin intens. Tanpa sadar, aku sudah terbiasa dengan kabar darinya.

Selasa, 22 Januari 2019

Serpihan Hati Yang Telah Pergi

Serpihan Hati Yang Telah Pergi

Aku pernah merasa sangat bahagia, hanya dengan melihat senyumu
Aku pernah merasa bahagia, hanya dengan tertawa bersamamu
Dan aku sangat bahagia, saat kau menemaniku untuk mencapai tujuan.

Waktu terasa begitu cepat saat bersamamu,
Ku-nikmati setiap tawa yang terlukis di wajahmu
Ku-pahami setiap kata yang kau ucapkan saat bersamaku
Dan aku bahagia dengan senyuman yang selalu kau berikan untukku.

Sayangnya, kau hanya menemaniku dalam mencapai tujuan,
tanpa ku-ketahui kemanakah arah tujuanmu yang sebenarnya
Dan di tengah perjalanan, kau pergi meninggalkanku yang ternyata berbeda tujuan denganmu

Serpihan hati yang telah pergi,
Bagaimana kabarmu hari ini?
Akankah kita bertemu lagi?
Walau kita telah memilih tujuan sendiri,

Serpihan hati yang telah pergi,
Mungkinkah kau 'kan kembali?
Walau kita sudah tak saling memiliki?

-Ai-

Sabtu, 03 November 2018

Terimakasih, November.

Di tempat yang sama, sebelum semuanya berubah menjadi abu-abu. Saat aku menemukan tempat ternyaman untuk mengeluh tentang hidup yang monoton, ada bahu yang selalu siap untuk sandaranku, dan ada dia yang ingin mendengarkan cerita monotonku. Dia yang hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia yang saat ini sedang kurindu. Aku bahagia saat aku bisa membuatnya tertawa, hanya dengan tingkah konyolku, dan hanya dengan cerita monoton yang membuat kita tertawa sampai menangis. Saat itu, aku merasa sangat bahagia. Dia yang rela menunggu hujan reda hanya untuk mengantarku pulang. Dia yang memamerkan lesung pipinya padaku, walau lesungnya samar karna pipinya yang sedikit chubby. Dia yang memiliki tempat sendiri dihati. Dia yang menceritakan hal-hal konyol tentang adik bungsunya. Dia yang hanya menanyakan kabarku melalui temanku. Dia yang mengajarkanku apa artinya menunggu. Dia yang mengajarkanku bagaimana rasanya menunggu. Dia hanya satu bagiku, takkan ada yang bisa menyerupainya. Dan dia yang.. sudah bosan untuk menungguku, lalu memilih untuk pergi.

Tidak ada waktu semenitpun yang membuatku menyesal telah mengenalnya. Karena dia telah memiliki tempat tersendiri dihati. Karena dia telah membuatku tertawa. Dan aku cukup bahagia dengan melihatnya tersenyum, walau bukan aku alasannya.

Terimakasih November, kau telah mengirimkan September melalui Oktober untuk menemuiku. Karena kini, bagiku kau hanya Novemberku. Bahkan, aku tidak tahu keberadaannya. Lambat laun, posisinya bisa saja di gantikan oleh orang lain. Kalaupun dia, akan datang lagi, rasanya semua takkan sama.. karena sesuatu yang sudah pergi takkan sama saat ia kembali.

Terimakasih November, walau aku dan dia tidak pernah menjadi kita.

-Ai-

Selasa, 16 Oktober 2018

Untukmu, yang pernah singgah dihati

Untukmu, yang pernah singgah dihati


Kamu adalah prioritasku, dulu
Kamu adalah yang membuatku tertawa, dulu
Dulu, semua terasa indah saat bersamamu
Kemanakah kamu yang dulu?

Aku pernah memintamu untuk menunggu, hanya sebentar
Tapi kau memilih untuk meninggalkanku
Aku pernah menunggumu, tanpa kau pinta
Nyatanya, aku hanyalah angin yang membawamu pergi

Kau datang, saat aku terjatuh
Kau ulurkan tangan, untuk membantuku bangun
Dan kau pergi, membuatku terjatuh lagi
Lalu, siapa yang akan membantuku untuk berdiri lagi?

Memang salahku, masih merindukanmu sampai sekarang
Nyatanya, aku hanyalah pilihan saat kau bosan
Setidak pentingkah aku?
Semudah itukah dia menggantikan posisiku?

Kini.. aku seperti balon, dan kau seperti anak kecil
Kau dengan mudahnya melepaskan genggamanku
Kau bahagia, saat aku lepas dari genggamanmu
Tapi akhirnya kau menyesal, karena aku takkan kembali lagi padamu

Untukmu yang pernah singgah dihati,
Terima kasih, kita pernah sedekat nadi walaupun kini sejauh matahari
Kamu adalah apa yang aku tulis,
tapi aku bukanlah apa yang kamu baca


-Ai-