Sabtu, 03 November 2018

Terimakasih, November.

Di tempat yang sama, sebelum semuanya berubah menjadi abu-abu. Saat aku menemukan tempat ternyaman untuk mengeluh tentang hidup yang monoton, ada bahu yang selalu siap untuk sandaranku, dan ada dia yang ingin mendengarkan cerita monotonku. Dia yang hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia yang saat ini sedang kurindu. Aku bahagia saat aku bisa membuatnya tertawa, hanya dengan tingkah konyolku, dan hanya dengan cerita monoton yang membuat kita tertawa sampai menangis. Saat itu, aku merasa sangat bahagia. Dia yang rela menunggu hujan reda hanya untuk mengantarku pulang. Dia yang memamerkan lesung pipinya padaku, walau lesungnya samar karna pipinya yang sedikit chubby. Dia yang memiliki tempat sendiri dihati. Dia yang menceritakan hal-hal konyol tentang adik bungsunya. Dia yang hanya menanyakan kabarku melalui temanku. Dia yang mengajarkanku apa artinya menunggu. Dia yang mengajarkanku bagaimana rasanya menunggu. Dia hanya satu bagiku, takkan ada yang bisa menyerupainya. Dan dia yang.. sudah bosan untuk menungguku, lalu memilih untuk pergi.

Tidak ada waktu semenitpun yang membuatku menyesal telah mengenalnya. Karena dia telah memiliki tempat tersendiri dihati. Karena dia telah membuatku tertawa. Dan aku cukup bahagia dengan melihatnya tersenyum, walau bukan aku alasannya.

Terimakasih November, kau telah mengirimkan September melalui Oktober untuk menemuiku. Karena kini, bagiku kau hanya Novemberku. Bahkan, aku tidak tahu keberadaannya. Lambat laun, posisinya bisa saja di gantikan oleh orang lain. Kalaupun dia, akan datang lagi, rasanya semua takkan sama.. karena sesuatu yang sudah pergi takkan sama saat ia kembali.

Terimakasih November, walau aku dan dia tidak pernah menjadi kita.

-Ai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar